Tampilkan postingan dengan label manajemen reputasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label manajemen reputasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Februari 2020

Membangun Reputasi Digital Anda : Jadilah Katalis dan Bukan Artis!

Oleh : Bambang Haryanto

Di media sosial, kata Gary Vaynerchuck, Anda jangan tampil sebagai artis. Tapi tampilkan diri Anda sebagai disc jockey. 

Saya hanya bisa menebak-nebak maksud ucapan dia itu. Yakni, kalau Anda sebagai artis maka Anda memosisikan diri di bawah lampu sorot. Berambisi menjadi pusat perhatian. Semua story atau topik postingan hanya tentang diri Anda. Kosa kata yang berhamburan adalah : saya, karier saya, pengalaman saya, saya dulu, sukses saya. 

Di era awal sebagai pengguna Facebook, sebagaimana ulah pengguna lain, banyak dari kita tampil sebagai artis. Memajang foto-foto diri sendiri, bergaya duck face, baik bersama kucingnya yang baru beranak, pose bersama keluarga di resto, atau lagi berwisata di spot yang eksotis.

Seiring berjalannya waktu, satu persatu, para artis itu menghilang dari lini masa kita. "Menulis tentang diri sendiri punya keterbatasan," kata sastrawan Ayu Utami. "Lama-lama stok cerita tentang kita itu akan habis." 

Kata Gary Vee, tampilkan diri Anda sebagai disc jockey. Bayangan saya, dia hadir di tengah kerumunan untuk terus mengajak audien bergoyang. Agar saling berinteraksi satu sama lain. Menyertai nomor-nomor musik yang dia sajikan. 

Nomor musik atau topik materinya dirancang untuk terus aktual. Kekinian. Sarat value. Dia pun dituntut harus terus men-charge diri dengan wawasan dan pengetahuan baru. Agar tidak kedaluwarsa. 

Anda ingin menjadi artis atau katalis? Anda bebas memilihnya.

@bambangharyanto


Minggu, 13 Oktober 2019

Menulis di Media Sosial : Berbagi Nilai atau Promosi Diri Sendiri

Oleh : Bambang Haryanto

Penolakan itu menyakitkan. Dalam cinta. Dalam berburu pekerjaan. Dalam konteks saya, adalah saat mengirim artikel ke surat kabar nasional.

Berkali-kali ditolak. Dalam surat pengembalian artikel (budaya email masih belum ada) selalu disertakan pelbagai syarat untuk tulisan yang berpeluang dimuat. Antara lain, isi harus aktual. Memuat pandangan baru.Terkait kepentingan orang banyak. Bukan artikel teknis.

Jadilah impian bahwa nama saya akan tampil di halaman opini, mejeng sehari sebagai thought leader, tetap tidak kesampaian sampai hari ini. Penolakan itu memicu untuk mencari jalan lain. Memang tidak pernah muncul di halaman opini, syukurlah beberapa kali tulisan saya ternyata bisa dimuat di halaman lainnya.

Di era media sosial kini, mungkin dorongan orang untuk menulis di media massa menyurut. Alasannya, mengapa harus berkompetisi, dengan kemungkinan besar ditolak, sementara di akun medsos milik kita, kita bisa menulis apa saja, sebebas apa pun mau kita?

Pendapat itu setengah benar. Tetapi upaya menulis di media massa, tetap berguna. Karena ada seleksi, minimal memandu kita untuk selalu menulis yang berorientasi berbagi value bagi pembaca.

Kepentingan pembaca yang menjadi fokus kita, dan bukan sibuk berbusa-busa membicarakan diri kita sendiri semata walau peluangnya terbuka. 

Seorang Guy Kawasaki, penulis 13 buku, pernah membagikan tips menulis di media sosial. Porsinya, menurutnya, 90 persen konten bagus dan sisanya, 10 persen adalah upaya menahan diri dari kemaruk memromosikan diri sendiri.

Ah, itu berat sekali itu, Guy !
Anda setuju?

Jumat, 22 Maret 2019

Menaker: Akun media sosial akan jadi syarat lamaran pekerjaan

Pewarta: Wisnu Adhi Nugroho
Editor: Muhammad Yusuf

Rabu, 20 Maret 2019 14:31 WIB

Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri saat melakukan kunjungan kerja di pabrik PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk di Kabupaten Semarang, Rabu (20/3). (Foto: Wisnu Adhi)

Semarang (ANTARA) - Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri mengatakan bahwa akun media sosial ke depan akan menjadi salah satu syarat lamaran pekerjaan di suatu perusahaan, baik perusahaan milik pemerintah maupun asing.

"Kedepan (pengecekan) akun medsos akan menjadi tren bagi perusahaan saat akan menerima karyawan sehingga kalau medsos kita gak benar itu bisa mengganggu perjalanan karir kita," kata Menaker saat menyampaikan pidato sambutan dalam kunjungan kerja ke pabrik PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk di Kabupaten Semarang, Rabu.

Oleh karena itu, Menaker mengimbau semua lapisan masyarakat, terutama generasi muda untuk berhati-hati dan lebih bijak dalam menggunakan medsosnya masing-masing karena hal itu mencerminkan jatidiri seseorang.

Menaker mencontohkan ada seorang pelamar kerja di suatu perusahaan yang dinyatakan lolos tes tertulis dan wawancara, namun saat dilakukan pengecekan lebih lanjut yang bersangkutan batal diterima kerja hanya karena akun medsosnya berisi hal-hal negatif.

"Oleh karena itu, saya pesan hati-hati gunakan medsos, jangan gampang termakan hoaks dan ikut menyebarkan hoaks, terutama hoaks mengenai tenaga kerja asing," ujarnya.

Terkait dengan maraknya hoaks mengenai tenaga kerja asing (TKA) itu Menaker menegaskan bahwa TKA di Indonesia masih aman dan terkendali.

"TKA kalau masuk dan kerja di Indonesia itu prosedurnya ketat, sedangkan dari sisi jumlah masih sangat kecil, hanya sekitar 95 ribuan TKA dari berbagai negara yang bekerja di Indonesia, TKA dari China hanya 32 ribuan saja," katanya.

Syarat-syarat yang harus dipenuhi dan dilaksanakan TKA yang bekerja di Indonesia adalah harus mempunyai izin kerja dan izin tinggal, membayar pajak tiap bulan sesuai ketentuan yang berlaku, hanya bekerja pada jabatan, waktu, dan lokasi tertentu, serta harus melakukan transfer ilmu dan teknologi.

Dalam kunjungan kerjanya tersebut, Menaker didampingi Direktur PT Sido Muncul Irwan Hidayat, Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Sukirman, dan jajaran Dinas Ketenagakerjaan tingkat provinsi dan kabupaten.

Sumber : https://m.antaranews.com/berita/812910/menaker-akun-media-sosial-akan-jadi-syarat-lamaran-pekerjaan